SIFAT-SIFAT PARA NABI
AS
Para Nabi, meskipun mereka juga manusia yang makan, minum,
sehat, sakit, menikahi perempuan, berjalan di pasar, mengalami apa yang dialami
manusia seperti lemah, lanjut usia, dan mati namun mereka memiliki perbedaan
dengan berbagai keistimewaan dan memiliki sifat-sifat yang agung yang bagi
mereka adalah salah satu hal yang harus melekat serta paling urgen. Sifat-sifat
ini bisa diringkas sebagai berikut :
- Jujur
- Amanah
- Bebas dari aib yang menjijikkan
- Menyampaikan
- Cerdas
- Terhindar dari dosa
Di sini bukanlah tempat untuk membicarakan sifat-sifat ini
secara detail. Karena pembicaraan masalah ini telah ditanggung oleh buku-buku
tauhid. Di sini, kami hanya akan menyebut sebagian sifat yang membedakan Nabi
Muhammad SAW dengan manusia biasa.
MAMPU MELIHAT DARI BELAKANG SEBAGAIMANA DARI DEPAN
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW
bersabda :
“Apakah kalian melihat qiblatku di sini ? Demi Allah,
ruku’ dan sujud kalian tidak samar bagi saya. Sungguh saya bisa melihat kalian
dari balik punggungku.”
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW
bersabda :
“Wahai manusia,
sesungguhnya saya adalah imam kalian. Maka janganlah mendahului saya dengan
ruku’ dan sujud. Karena saya bisa melihat kalian dari arah depan dan
belakang.”
Abdurrazaq meriwayatkan dalam karyanya, dan Al-Hakim serta
Abu Nu’aim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda :
“Sesungguhnya saya
mampu melihat sesuatu dari arah belakangku sebagaimana dari arah depanku.”
Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia
berkata, “Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh saya mampu melihat kalian dari
balik punggungku.”
BELIAU MAMPU MELIHAT APA YANG TIDAK KITA LIHAT DAN
MAMPU MENDENGAR APA YANG TIDAK KITA
DENGAR
Dari Abu Dzarr, ia berkata, “Rasulullah bersabda :
“Sungguh saya mampu melihat apa yang tidak kalian lihat
dan mampu mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit bersuara dan ia memang
wajib bersuara. Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya, tidak ada di langit
tempat seluas empat jari-jari kecuali ada malaikat yang meletakkan keningnya
bersujud kepada Allah. Demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang saya
ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak tersenyum, tidak akan bersenang-senang
dengan wanita di atas tempat tidur dan niscaya akan pergi ke tempat-tempat
tinggi berlindung kepada Allah.” Abu Dzarr berkata, “Sekiranya saya jadi pohon
yang ditebang.” (HR. Ahmad, At-Turmudzi dan Ibnu Majah).
KETIAK MULIA NABI SAW
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata,
“Saya melihat Rasulullah SAW berdo’a seraya mengangkat kedua tangan beliau
hingga kedua ketiaknya terlihat.” Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Jabir, ia
berkata, “Nabi SAW itu jika sujud maka warna putih kedua ketiak beliau
terlihat.” Dalam banyak hadits dari sekelompok sahabat terdapat keterangan yang
menjelaskan putihnya kedua ketiak beliau. Al-Muhib AtThabari berkata, “Salah
satu keistimewaan beliau SAW adalah bahwa ketiak semua orang berubah warnanya kecuali
beliau.” Al-Qurthubi mengemukan pendapat yang sama dengan At-Thabari. “Dan
sesungguhnya ketiak beliau tidak berambut,” tambahnya.
NABI SAW TIDAK MENGUAP
Al-Bukhari meriwayatkan dalam At-Tarikh, Ibnu Abi Syaibah
dalam Al-Mushannaf dan Ibnu Sa’ad dari Yazid ibn Al-Ashamm, ia berkata, “Tidak
pernah sekalipun Nabi SAW menguap.”Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Maslamah
ibn Abdil Malik ibn Marwan, ia berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi SAW
menguap.”
AIR KERINGAT MULIA NABI SAW
Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW
masuk menemui kami lalu beliau tidur siang. Saat tidur badan beliau
mengeluarkan keringat. Ibuku datang membawa botol. Kemudian ia mengambil
keringat Nabi dengan kain. Lalu Nabi terjaga dan bertanya, “Apa yang kamu
lakukan ini, wahai Ummu Sulaim ?”. “Keringat yang saya masukkan dalam minyak
wangi saya. Keringat ini paling wanginya wewangian,” jawab ibuku.
Muslim juga meriwayatkan lewat jalur lain dari Anas, ia
berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW mendatangi Ummu Sulaim. Lalu beliau hendak
tidur siang. Ummu Sulaim kemudian menggelar alas dari kulit dan Nabi tidur di
atasnya. Nabi adalah orang yang banyak mengeluarkan keringat. Ummu Sulaim
kemudian mengumpulkan keringat beliau lalu memasukkannya dalam minyak wangi dan
botol. “Wahai Ummu Sulaim, apa ini ?” tanya Nabi. “Keringat yang saya campurkan
pada minyak wangi saya,” jawab Ummu Sulaim.
TINGGI BADAN NABI SAW
Ibnu Khaitsamah meriwayatkan Tarikhnya, Al-Baihaqi dan Ibnu
‘Asakir dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah bukan lelaki terlalu tinggi dan
pendek. Jika berjalan sendirian postur beliau dinilai sedang. Jika beliau
berjalan dengan seseorang yang dinilai tinggi maka tinggi beliau akan
melampauinya. Terkadang beliau didampingi oleh dua orang yang berpostur tinggi
tapi tinggi badan beliau mengalahkan keduanya. Jika keduanya meninggalkan
beliau, maka beliau dinilai sebagai orang yang berpostur sedang. Dalam
Al-Khashaa-ish, Ibnu Sab’in menyebutkan hal di atas. “Sesungguhnya Rasulullah
SAW jika duduk maka pundak beliau lebih tinggi dari semua orang yang duduk,”
tambah Ibnu Sab’in.
BAYANGAN NABI SAW
Al-Hakim dan At-Turmudzi meriwayatkan dari Dzakwan bahwa
Rasulullah SAW tidak memiliki bayangan baik di bawah sinar matahari atau pun
bulan. Ibnu Sab’in berkata, “Salah satu keistimewaan Nabi SAW adalah bahwa
bayangan beliau tidak jatuh di atas tanah dan bahwa beliau adalah cahaya. Jika
beliau berjalan di bawah sinar matahari atau bulan maka tidak terlihat bayangan
beliau. Sebagian ulama mengatakan, “Fakta ini diperkuat oleh sebuah hadits
beliau dalam berdo’a, “Jadikanlah saya cahaya.”Al-Qadli ‘Iyadl dalam Al-Syifa’
dan Al-‘Azafiy dalam Maulidnya mengatakan, “Salah satu keistimewaan Nabi SAW
bahwa beliau tidak dihinggai lalat.” Dalam Al-Khashaa-ish. Ibnu Sab’in menyebutkannya
dengan redaksi : Tidak ada seekor nyamuk pun yang hinggap di atas pakaian Nabi
SAW. “Bahwa kutu tidak menyakiti beliau,” tambahnya.
DARAH NABI SAW
Al-Bazzar, Abu Ya’la, At-Thabarani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi
meriwayatkan dari Abdullah ibn Zubair bahwa ia datang kepada Nabi SAW pada saat
beliau sedang melakukan bekam. Setalah Nabi selesai berbekam beliau berkata,
“Wahai Abdullah, pergilah dan tumpahkanlah darah ini di tempat yang tidak
diketahui orang.” Abdullah meminum darah tersebut. Ketika ia kembali Nabi
bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” “Saya letakkan darah tersebut dalam tempat
paling tersembunyi yang saya tahu bahwa tempat itu tersembunyi dari manusia,”
jawab Abdullah ibnu Zubair. “Mungkinkah engkau meminumnya.”“Benar.”“Celakalah
manusia karena kamu dan celakalah kamu karena mereka,” kata Nabi. Akhirnya
orang-orang menganggap bahwa kekuatan yang dimiliki Abdullah ibnu Zubair adalah
akibat meminum darah Nabi SAW.
TIDURNYA NABI SAW
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia bertanya,
“Apakah engkau akan tidur sebelum shalat witir ?
“Wahai ‘Aisyah ! sesungguhnya kedua mataku tertidur tapi
hatiku tidak tidur,” jawab Nabi SAW. Nabi SAW bersabda :
“Kedua mataku
tertidur tapi hatiku tidak tidur”
“Para Nabi itu mata mereka tertidur namun hati mereka
tidak.”
HUBUNGAN INTIM NABI SAW
Al-Bukhari meriwayatkan dari jalur Qatadah dari Anas, ia
berkata, “Nabi SAW menggilir para istrinya yang berjumlah sebelas orang dalam
satu waktu pada siang dan malam.” Saya bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi
kuat?” “Kami mengatakan bahwa beliau diberi kekuatan 30 laki-laki,” jawab
Anas.
TERHINDARNYA BELIAU DARI MIMPI BASAH
At-Thabarani meriwayatkan lewat jalur ‘Ikrimah dari Anas dan
Ibnu ‘Abbas, dan AdDinawari dalam Al-Mujalasah lewat jalur Mujahid dari Ibnu
‘Abbas, ia berkata, “Tidak ada seorang Nabi pun yang mimpi basah. Karena mimpi
basah hanyalah dari syetan.”
AIR SENI NABI SAW
Al-Hasan ibnu Sufyan meriwayatkan dalam Musnadnya, Abu
Ya’la, Al-Hakim, AdDaruquthni, dan Abu Nu’aim dari Ummu Aiman, ia berkata,
“Suatu malam Nabi bangkit berdiri menuju kendi yang ada di samping rumah lalu
beliau kencing pada tempat itu. Kemudian pada malam itu saya bangun dan merasa
haus. Lalu saya minum dari isi kendi tersebut. Saat pagi tiba saya menceritakan
peristiwa semalam kepada beliau. Beliau tertawa dan berkata, “Sesungguhnya
setelah hari ini perut kamu tidak akan merasakan sakit selamanya.”
‘Abdurrazaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, “Saya
diberi informasi bahwa Nabi SAW kencing pada wadah kayu lalu wadah itu
diletakkan di bawah tempat tidur beliau. Kemudian Nabi datang tapi tiba-tiba
wadah itu tidak ada isinya sama sekali. Lalu Nabi bertanya kepada seorang
perempuan bernama Barakah yang mengabdi kepada Ummu Habibah dan datang
bersamanya dari tanah Habasyah, “Di manakah air seni yang ada pada wadah ?”
“Saya minum,” jawab Barakah. “Sehat, wahai Ummu Yusuf,” lanjut Nabi. Barakah
pun dijuluki Ummu Yusuf dan tidak mengalami sakit sama sekali sampai sakit yang
dialami waktu kematian menjemput. Ibnu Dihyah berkata, “Peristiwa yang dialami
Barakah adalah peristiwa lain, bukan peristiwa Ummu Aiman dan Barakah Ummu Yusuf bukan Barakah Ummu Aiman.”
No comments:
Post a Comment