Wednesday, February 1, 2017

DEFINISI BERKUMPUL DALAM PERAYAAN HARI HARI BESAR ISLAM

DEFINISI BERKUMPUL DALAM PERAYAAN

Tradisi yang berlaku dalam masyarakat kita adalah berkumpul untuk mengenang sejumlah peristiwa bersejarah seperti kelahiran Nabi Muhammad, peringatan Isra’ dan Mi’raj, malam Nishfu Sya’ban, hijrah ke Madinah, peringatan Nuzulul Qur’an dan perang Badar.Dalam pandangan kami aktivitas ini adalah tradisi yang tidak memiliki relasi dengan agama, yang berarti tidak perlu dikategorikan sebagai hal yang disyri’atkan atau disunnahkan. Sebagaimana ia tidak bertentangan dengan salah satu prinsip agama. Karena yang berbahaya adalah meyakini disyari’atkannya sesuatu yang tidak disyari’atkan. Menurut saya tradisi-tradisi ini tidak boleh dikatakan lebih dari sesuatu yang direstui atau tidak direstui syara’. Saya kira pandangan ini adalah pandangan yang disepakati. 

Sebagian orang mengklaim bahwa momen-momen dimana orang-orang berkumpul memperingatinya tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan disepakati. Ia berkata, “Masyarakat terbiasa berkumpul pada malam tanggal 27 untuk mengenang peristiwa Isra’ Mi’raj dan pada malam tanggal 12 Rabiul Awwal untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad Saw padahal para ulama berbeda pendapat dalam menentukan tanggal kedua momen ini dengan tepat.” Menurut saya perbedaan dalam menentukan waktu tidak memiliki pengaruh. Karena kami tidak meyakini disyari’atkannya berkumpul pada waktu tertentu. Masalah ini hanyalah persoalan tradisi sebagaimana telah kami jelaskan. 

Sedang yang penting bagi kami adalah memanfaatkan kesempatan dan momen berkumpulnya orang banyak untuk mengarahkannya kepada hal yang positif dan di malam ini masyarakat dalam jumlah besar berkumpul. Baik mereka keliru dalam menentukan waktu atau benar. Karena berkumpulnya mereka ini untuk mengingat Allah dan mengungkapkan rasa cinta kepada Rasulullah sudah cukup untuk mengharap rahmat dan karunia Allah. Saya memiliki keyakinan sepenuhnya bahwa berkumpulnya banyak orang sepanjang dilakukan karena Allah dan berada dalam jalan Allah maka akan diterima oleh-Nya meskipun mereka keliru dalam menentukan waktu. 

Untuk menjelaskan persoalan ini saya akan membuat perumpamaan dengan seseorang yang menyebarkan undangan resepsi pada hari yang telah ditentukan lalu sebagian undangan datang bukan pada waktu yang telah ditentukan itu karena mengira waktu undangan adalah pada hari di mana mereka datang. Apakah anda kira pihak yang mengundang akan mengusir dan menolak mereka dengan kasar sambil berkata, “Kembalilah dan pergilah kalian dari saya, karena hari ini bukanlah waktu resepsi di mana saya memberikan undangan dan menentukan waktunya untuk kalian,” atau ia akan menyambut mereka dengan baik, menyampaikan terima kasih atas kedatangan mereka, membukakan pintu untuk mereka, dan memohon mereka untuk masuk lalu meminta mereka untuk datang kembali pada waktu yang telah ditentukan? Sikap kedua inilah yang saya bayangkan dan yang pantas dengan karunia dan kemurahan Allah. 

Ketika kami berkumpul dalam rangka memperingati Isra Mi’raj, maulid Nabi atau peringatan bersejarah apapun maka yang terpenting bukanlah menentukan waktunya dengan tepat. Karena jika waktu peringatan itu ternyata adalah sesuai dengan waktu kejadian maka kami ucapkan Alhamdulillah. Tapi jika ternyata meleset maka Allah tidak akan menolak kita dan menutup pintuya untuk kita.  Menurut saya memanfaatkan kesempatan berkumpul dengan berdo’a, mendekatkan diri kepada Allah dan mengharap pemberian, kebaikan dan keberkahan-Nya adalah manfaat terbesar dari peringatan itu sendiri. 

Memanfaatkan berkumpulnya banyak orang dengan mengingatkan mereka, memberi petunjuk dan nasehat itu lebih baik dari pada menghalangi mereka dan melarang mereka serta mengingkari tindakan mereka dengan argumentasi yang tidak berguna sama sekali. Karena faktanya, larangan dan pengingkaran itu tidak efektif dan mereka semakin antusias dan fanatik setiap kali penolakan ditingkatkan dan semakin keras. Sehingga tanpa sadar orang yang melarang mereka seolah-olah menyuruh mereka untuk melaksanakannya. Sesungguhnya kalangan intelektual dan da’i yang menggunakan akal mereka dengan sepenuh hati berambisi menemukan ruang tempat konsentrasi massa untuk menyebarkan ide-ide mereka dan menarik simpati massa agar bergabung dalam barisan mereka. Karena itu Anda akan menyaksikan mereka mendatangi taman-taman, asosiasi-asosiasi, tempat-tempat umum dan konsentrasi massa agar mereka bisa melakukan misi yang mereka inginkan. 

Kami sendiri melihat masyarakat berkumpul dalam berbagai momen dengan penuh antusias. Lalu apakah kewajiban kita terhadap masyarakat tersebut ? Merepotkan diri dengan melakukan pengingkaran, penerimaan dan penolakan hukum berkumpulnya masyarakat dan sebagainya adalah tindakan sia-sia bahkan bisa dikategorikan sebuah ketololan dan kedunguan. Sebab kita akan menelantarkan asset besar dan kehilangan momen yang zaman tidak mungkin berbaik hati memberikannya kecuali pada acara-acara semisal ini. Maka marilah kita manfaatkan pertemuan-pertemuan tersebut.

PERSEPSI MAULID NABI YANG MULIA


Banyak orang keliru dalam memahami subtansi maulid Nabi yang kami propagandakan dan kami anjurkan untuk menyelenggarakannya. Mereka mendefinisikannya secara keliru yang kemudian di atasnya dibangun banyak persoalan-persoalan panjang dan perdebatanperdebatan yang luas yang membuat mereka menyia-nyiakan waktu mereka dan para pembaca. Persoalan dan perdebatan ini tidak bernilai sama sekali laksana debu yang beterbangan. Karena dibangun di atas asumsi-asumsi yang keliru. Kami telah banyak menulis tema menyangkut maulid Nabi dan mengupasnya berkali-kali di radio dan forum-forum terbuka dengan uraian yang membuat jelas konsep kami tentang maulid. 

Kami katakan dan sebelumnya telah kami kemukakan bahwa berkumpul dalam rangka memperingati maulid Nabi Saw hanyalah sebuah tradisi dan sama sekali bukanlah sebuah ibadah. Inilah yang saya yakini dan saya patuh kepada Allah dengannya. Silahkan, siapapun bisa memberikan interpretasi. Karena seseorang akan dibenarkan atas apa yang dikatakannya tentang dirinya dan substansi keyakinannya, bukan orang lain. Dalam setiap acara, pertemuan dan perayaan saya berkata bahwa pertemuan dengan format demikian adalah sekedar tradisi yang tidak memiliki unsur ibadah sama sekali. Setelah penjelasan ini masihkah tersisa keingkaran orang yang ingkar dan bantahan orang yang membantah? 

Namun musibah paling besar sesungguhnya adalah ketidakmengertian. Karena itu Imam Syafi’i berkata :
”Saya tidak pernah berdebat dengan orang alim kecuali saya mampu mengalahkannya dan saya tidak pernah berdebat dengan orang bodoh kecuali ia mampu mengalahkanku.”

Pelajar dengan kapasitas keilmuan terendah sekalipun akan mengetahui perbedaan antara tradisi dan ibadah (ritual) dan substansi keduanya. Jika seseorang berkata, “Ini (perayaan) adalah ritual yang disyari’atkan beserta tata caranya,” maka saya akan bertanya kepadanya, “Manakah dalilnya ?” Dan jika ia berkata, “Ini adalah tradisi,” maka saya akan berkata kepadanya, “Berbuatlah sesukamu.” Karena yang berbahaya dan malapetaka yang kami khawatirkan adalah jika tindakan bid’ah yang tidak disyari’atkan namun hanya ijtihad manusia, diberi bungkus ibadah. Hal ini adalah pandangan yang tidak kami setujui dan justru kami perangi dan kami peringatkan. 

Walhasil, berkumpul untuk memperingati maulid Nabi hanyalah urusan tradisi. Namun ia adalah salah satu tradisi positif yang mengandung banyak manfaat untuk masyarakat karena memang satu-persatu dari manfaat itu dianjurkan oleh syara’. Salah satu gambaran keliru yang ada dalam benak sebagian orang adalah mereka mengira bahwa kami mengajak menyelenggarakan peringatan maulid Nabi pada malam tertentu, tidak sepanjang tahun. Si pelupa ini tidak tahu bahwa beberapa perkumpulan diselenggarakan dalam rangka memperingati maulid Nabi di Makkah dan di Madinah dalam format luar biasa pada setiap tahun. Dan setiap momen yang terjadi dimana penyelenggara merasa bersuka cita. Hampir setiap siang dan malam di Makkah dan di Madinah diselenggarakan perkumpulan guna memperingati maulid Nabi. 

Fakta ini diketahui sebagian orang dan sebagian lagi tidak mengetahuinya. Siapapun yang mengatakan bahwa kami mengingat Nabi hanya pada satu malam saja dan melupakan beliau selama 359 malam maka ia telah melakukan dosa besar dan kebohongan yang nyata. Tempat-tempat diadakannya maulid Nabi ini terselenggara berkat karunia Allah pada sepanjang malam setiap tahun. Nyaris tidak lewat siang atau malam kecuali di sanasini diselenggarakan maulid Nabi. Kami serukan bahwa mengkhususkan satu malam saja untuk memperingati maulid Nabi adalah tindakan yang sangat kurang patut terhadap Rasulullah. Karena itu, alhamdulillah orang-orang menyambut seruan ini dengan antusias. Siapapun yang menganggap bahwa kami mengkhususkan penyelenggaraan perayaan maulid Nabi di Madinah Munawwarah maka ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan fakta sesungguhnya. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdo’a kepada Allah untuknya agar Allah menerangi mata hatinya dan menyingkirkan tirai kebodohan darinya. Agar ia bisa melihat bahwa perayaan maulid Nabi Saw tidak hanya diselenggarakan di Madinah dan bukan hanya pada malam tertentu pada bulan tertentu. Tetapi merata di setiap zaman dan tempat.
Sungguh sama sekali tidak masuk akal
Jika terang benderangnya siang perlu bukti 

Walhasil, kami tidak mengatakan bahwa merayakan maulid Nabi pada malam tertentu itu sunnah. Bahkan orang yang berkeyakinan demikian telah melakukan bid’ah dalam agama. Sebab mengingat dan memiliki keterikatan batin dengan beliau harus ada dalam setiap waktu dan memenuhi seluruh ruang hati. Memang betul bahwa pada bulan kelahiran beliau ada faktor pendorong yang lebih kuat untuk menggugah orang-orang dan membuat mereka berkumpul serta emosi mereka juga meluap-luap akibat keterikatan waktu. Akhirnya, situasi kini membawa memori mereka ke masa lalu dan mengalihkan mereka dari hal yang kasat mata ke hal yang ghaib.  Pertemuan-pertemuan dalam rangka merayakan maulid ini adalah wahana besar untuk mengajak mendekatkan diri kepada Allah. Ia adalah kesempatan emas yang layak untuk tidak dilewatkan begitu saja. Bahkan wajib bagi para da’i dan ulama untuk mengingatkan ummat akan budi pekerti, etika, aktivitas, perjalanan hidup, muamalah dan ibadah beliau dan menasehati serta membimbing mereka menuju kebaikan dan kesuksesan dan memperingatkan mereka akan bencana, bid’ah, keburukan dan fitnah. 

Berkat karunia Allah kami selalu menganjurkan hal di atas, berpartisipasi dan berkata kepada orang-orang, “Tujuan dari perkumpulan ini bukan sekedar berkumpul-kumpul dan formalitas saja. Tapi perkumpulan ini adalah media yang positif untuk meraih target mulia, yaitu ini dan itu. Barangsiapa yang tidak mendapatkan apapun dari agamanya maka ia terhalang dari kebaikan-kebaikan maulid yang mulia. Kami tidak ingin berbicara panjang lebar dengan menyebutkan dalil-dalil dan justifikasi yang kami gali dari tema ini. Karena kami telah menyusun sebuah risalah khusus tentang maulid Nabi yang bernama “Seputar Perayaan Maulid Nabi Yang Mulia.” Hanya saja kami akan menyebutkan secara khusus kisah dimerdekakannya Tsuwaibah. Sebab banyak polemik seputar kisah ini.”

No comments:

Post a Comment