KEISTIMEWAAN-KEISTIMEWAAN PARA NABI DI ALAM BARZAKH
Dalam alam barzakh para nabi memiliki
keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki manusia lain. Seandainya selain
para nabi memeliki persamaan dalam sebagian keistimewaan tersebut dengan para
nabi maka persamaan ini bersifat relatif. Dan keistimewaan tetap hanya dimiliki
para nabi dipandang dari dua aspek :
Pertama, dari aspek keaslian atau orisinilitas dan kedua, dari aspek kesempurnaan.
Berikut sebagian keistimewaan para Nabi AS :
Kesempurnaan kehidupan mereka Alaihis Salaam
Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa kehidupan barzakh
adalah kehidupan nyata dan bahwa mayit mampu mendengar, merasakan, dan mengenal
baik ia mu’min atau kafir. Telah kami sebutkan pula bahwa hidup, rizqi dan
masuknya para arwah ke surga tidak hanya berlaku untuk orang yang mati syahid
sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash yang ada. Pandangan ini adalah pandangan
shahih yang dipegang oleh para imam dan mayoritas ahlussunnah. Berangkat dari
fakta ini maka mengatakan para nabi hidup itu termasuk terlalu banyak berbicara
karena hal ini sudah jelas sebagaimana keberadaan matahari, yang tidak
memerlukan penetapan. Justru yang benar adalah kita menetapkan bahwa kehidupan
para nabi lebih lengkap, lebih agung, lebih sempurna dan lebih mulia. Demikian
pula kehidupan manusia di atas permukaan bumi ini yang memiliki derajat,
status, dan level yang berlainan. Sebagian mereka ada yang hidup tetapi seperti
mayat. Allah telah berfirman dalam menggambarkan golongan ini :"….mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya
untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A`raaf : 179)
Sebagian disebutkan Allah sebagai berikut :
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati." (Q.S.Yunus : 62)
Sebagian lagi :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.
" (Q.S. Al-Mu`minuun : 1)
Sebagian lagi :
"Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah
orang-orangyang berbuat baik; mereka sediki sekali tidur di waktu malam; Dan di
akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). " (Q.S.
Adz-Dzaariyaat : 16-18)
Demikianlah kehidupan barzakh yang memilki derajat, level
dan status yang bervariasi.
"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini,
niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih
buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). "
Adapun para nabi AS maka sesungguhnya kehidupan, rizqi,
pengetahuan, pendengaran, persepsi, dan perasaan mereka lebih sempurna,lebih
lengkap dan lebih tinggi melebihi yang lain. Dalilnya adalah firman Allah
tentang orang-orang yang mati syahid :
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di
jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu
hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. "
(Q.S. Ali Imran : 169)
Jika arti kehidupan adalah kekekalan nyawa yang tidak sirna
dan tidak hancur maka tidak ada kelebihan yang layak disebut dan dipopulerkan
untuk orang mati syahid. Karena semua nyawa anak cucu Adam itu kekal tidak akan
sirna dan hancur. Ini adalah pandangan yang benar yang menjadi pegangan para
ulama muhaqqiqun sebagaimana dijelaskan secara mendalam oleh As-Syaikh Ibnu
Al-Qayyim dalam Kitab Ar-Ruh. Berarti harus ada keistimewaan menonjol yang
membuat para syuhada’ mengungguli selain mereka. Jika tidak demikian, maka
menyebutkan kehidupan mereka tidak ada gunanya sama sekali. Apalagi Allah
sendiri melarang kita mengatakan bahwa mereka telah mati :
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang
yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka
itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (Q.S. Al-Baqarah : 154)
Karena itu kami katakan bahwa kehidupan mereka harus lebih
sempurna dan lebih mulia dari pada yang lain. Pandangan ini adalah pandangan
yang didukung oleh nash-nash literal. Arwah para syuhada’ itu mendapat rizqi
bisa mendatangi sungai-sungai surga dan menyantap buah-buahan surga sebagaimana
dijelaskan Allah :
Perasaan mereka terhadap makanan, minuman dan kenikmatan
adalah perasaan yang sempurna dengan kesadaran sempurna dan kelezatan yang juga
sempurna serta kesenangan yang sesungguhnya sebagaimana disebutkan dalam hadits
: “Ketika mereka merasakan enaknya makanan dan minuman mereka serta bagusnya
tempat istirahat mereka, mereka berkata, “Mudah-mudahan saudara-saudara kami
mengetahui perlakukan Allah terhadap kami.” Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadits
ini diriwayatkan oleh Ahmad. Arwah para syuhada’ memiliki aktivitas yang lebih
besar dan luas dibanding arwah lain. Arwah tersebut bebas menjelajahi surga
sesuka mereka kemudian pulang untuk tinggal di dalam lampu-lampu yang terletak
di bawah ‘Arsy. (Demikian dikutip dari As-Shahih).
Arwah para syuhada’ mampu mendengar ucapan dan memahami
pembicaraan. Dalam As-Shahih disebutkan : “Sesungguhnya Allah bertanya kepada
mereka, “Apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab ingin ini dan itu.
Pertanyaan pun diajukan kembali yang dijawab mereka lagi. Selanjutnya mereka
meminta untuk bisa kembali ke dunia untuk berjihad kemudian meminta agar Allah
menyampaikan pesan dari mereka untuk saudarasaudara mereka, yang berisi
informasi mengenai penghormatan yang diberikan Allah untuk mereka. “Aku akan
menyampaikannya dari kalian.” Jawab Allah. Jika kehidupan semacam ini dialami
para syuhada’ maka secara otomatis dialami pula oleh para nabi dilihat dari dua
aspek :
Pertama, kehidupan seperti di atas adalah level mulia yang
diberikan kepada orang yang mati syahid sebagai bentuk kemuliaannya padahal
tidak ada level yang lebih tinggi dari level para nabi. Tidak disangsikan lagi
bahwa keadaan para nabi lebih tinggi dan sempurna dari pada keadaan semua
syuhada’. Maka mustahil jika kesempurnaan diperoleh para syuhada’ tapi tidak
didapat oleh para nabi. Lebih-lebih kesempurnaan kehidupan seperti ini yang
menetapkan bertambahnya kedekatan, kenikmatan dan kesenangan dengan Dzat Yang
Maha Tinggi.
Kedua, level ini diperoleh para syuhada’ sebagai balasan
dari jihad mereka dan pengorbanan jiwa mereka kepada Allah SWT sedang nabi
adalah orang yang menetapkan kita untuk berjihad, mengajak dan membimbing kita
untuk melakukannya atas izin dan taufik Allah. Beliau bersabda :
“Barangsiapa menetapkan perilaku yang baik maka ia
memperoleh pahala darinya dan pahala orang yang melakukannya sampai hari
kiamat.”
Beliau bersabda :
“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka ia memperoleh
pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya. Pahala itu tidak
mengurangi sedikitpun pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa mengajak
menuju kesesatan maka ia menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang
menirunya. Dosa itu itu tidak mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.”
Hadits-hadits shahih tentang kedua hal ini (kandungan dua
hadits di atas) banyak dan populer. Setiap pahala yang diraih oleh orang yang
mati syahid otomatis diraih oleh nabi karena melakukan apa yang dilakukan orang
yang mati syahid. Kehidupan barzakh yang khusus untuk orang yang mati syahid
adalah menambah memuliakannya dengan pahala seperti ini sebagai imbalan dari
amal perbuatannya di bawah panji Nabi Saw dan kematiannya secara syahid di
jalan Allah dan Nabi. Maka nabi juga memperoleh kehidupan seperti yang didapat
orang yang mati syahid. Malah kehidupan yang diperoleh nabi lebih agung karena
keunggulannya atas orang yang mati syahid.
Kehidupan barzakh yang hakiki yang dialami para nabi
khususnya Nabi Muhammad Saw terlalu tinggi dan sempurna untuk dibayangkan orang
yang pendek akalnya. Yaitu kita membayangkan mereka hidup sebagaimana kita.
Mereka makan dan minum karena membutuhkan makanan dan minuman, dan mereka
kencing dan berak karena terdesak untuk melakukannya, dan keluar dari kuburan
mereka untuk menghadiri majlis-majlis dzikir dan tempat-tempat berkumpul untuk
membaca Al-Qur’an serta berpartisipasi beserta ummat dalam kebahagiaan,
kesedihan, dan perayaannya lalu mereka kembali ke dalam kuburan mereka yang
berada di dalam bumi pada liang sempit yang di atasnya adalah tanah itu. Jika
kehidupan para nabi dideskripsikan seperti ini maka tidak ada sedikitpun
kemuliaan atau keutamaan malah deskripsi semacam ini adalah penghinaan
sesungguhnya yang seseorang tidak rela hal itu melekat untuk pengikut atau
pelayannya lebih-lebih jika Allah memberikannya kepada makhluk terbaik dan
hamba-Nya yang paling agung. Hal ini jelas mustahil seribu kali mustahil.
Kehidupan barzakh hakiki adalah kesadaran sempurna, persepsi
sempurna dan pengetahuan yang benar. Kehidupan barzakh hakiki adalah kehidupan
yang suci dan shalih : berdo’a, bertasbih, mengesakan Allah, mengumandangkan
pujian dan sholat.
No comments:
Post a Comment